Amar Ma’ruf Nahi Munkar

 

Dan ( Ingatlah ) ketika suatu umat di antara mereka berkata : “ Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras ?” mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”. Maka tatkala mereka melupakan apa yang di peringatkan kepada  mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras di sebabkan mereka selalu berbuat fasik (TQS al-A’raf [7]:164-165).

 

k

emungkaran merupakan perbuatan yang harus di tinggalkan. Lebih dari itu, kemungkaran juga tidak boleh di diamkan ketika terjadi di tengah-tengah kehidupan. Siapapun yang melihatnya harus berusaha untuk melarang dan mencegahnya. Dengan begitu, dia memiliki alasan di hadapan allah SWT dan berhak untuk di selamatkan dari azabnya. Inlah di antara yang di jelaskan oleh ayat ini .

KEGUNAAN NASIHAT

Allah SWT berfirman : wa idz qalat ummat [un] minhum lima ta’zhuna qawm[an] Allah muhlikuhum aw mu’adzdzibuhum adzab[an] syadid[an] (dan [ingatlah] ketika suatu umat di antara mereka berkata : “mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?”). dalam ayat sebelumnya di beritakan mengenai pelanggaran hari sabtu yang di lakukan oleh bani Israel yang tinggal di sebuah negri  yang terletak dekat laut. Setiap sabtu banyak ikan berdatangan di laut

dekat  tempat  tinggal mereka. Selain sabtu, ikan-ikan tersebut menghilang  di tegaskan dalam ayat tersebut, itu merupakan ujian atau cobaan yang di berikan kepada mereka karena mereka berlaku fasik. Terhadap ujian tersebut, sebagian di antara mereka tidak kuat menghadapi nya . merekapun mencari ikan pada hari sabtu tersebut. Padahal, mereka di larang untuk mencari ikan pada hari tersebut. Itu berarti, mereka telah melakukan pelanggaran terhadap hari sabtu. Di sebutkan : ya’duna fi al-sabt.

Pada saat itulah ada sebagian yang lain melarang agar tindakan pelanggaran tersebut tidak dilakukan. Ketika itu dilakukan, maka muncullah pertanyaan dari ummat[un] minhum (suatu umat dari mereka). Ada beberapa perbedaan mengenai siapa yang di maksud dengan ummah disini. Menurut pendapat yang terkuat, sebagai mana di paparkan Fakhruddin Ar Razi dan Al Wahidi bahwa penduduk negri tersebut terbagi menjadi dua kelompok pertama,

 

kelompok yang melakukan pelanggaran di hari sabtu. Dan kedua, kelompok yang tidak ikut melakukannya. Kelompok kedua terbagi lagi menjadi dua kelompok. Petama, yang memberikan nasihat dan teguran terhadap kelompok pelanggar hari sabtu. Dan kedua, yang diam dan tidak memberikan nasihat. Lebih dari itu merekapun mengingkari orang-orang yang memberikan nasihat seraya bertanya: lima ta’izhuhum

( mengapa kamu menasihati mereka ) ? Padahal telah maklum bahwa allah akan muhlikuhum (menghancurkan mereka) di Dunia dan mu’adzdzibuhum (mengazab mereka) di akhirat.

Terhadap pertanyaan demikian, mereka menjawab bahwa ada dua alasan mengapa mereka memberikan nasihat kepada orang-orang yang melakukan kemungkaran tersebut. Pertama: Qalu ma’dzirat[an] ila rabbikum (mereka menjawab: “ agar kami mempunyai alasan [ pelepas tanggung jawab] kepada

 

Tuhanmu ). Kata ma’dzirah merupakan bentuk mashdar berwazan maf’ilah seperti maghfirah. Di jelaskan ibnu duraid dalam kitabnya, Al isytiqaq, kata al’udzr,al’idzrah, dan al ma’dzirah berdekatan maknanya.

Artinya, sebagai mana dijelaskan Syaukani,”Nasihat kami itu sebagai alasan kepada Allah sehingga dia tidak menghukum kami karena meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar yang di wajibkan kepada kita.

kedua : wala’allahum yattaqun ( dan supaya mereka bertakwa). Artinya, dengan nasihat yang di disampaikan kepada orang yang melakukan pelanggar tersebut diharapkan membuat mereka sadar sehngga mau bertakwa. Yakni, mentaati semua perintah dan larangan-nya. Termasuk berhenti dan melanggar hari sabtu. Disebutkannya yattaqun menunjukan bahwa orang yang bertanya lima ya’izuhuna tidak termasuk orang-orang melakukan pelanggaran .

 

Nasib Pemberi Nasihat dan pelaku maksiat

Dalam ayat selanjutnya di sebutkan: Falamma nasu ma dzukkiru bihi ( maka tatkala mereka melupakan apa yang di peringatkan kepada mereka). Pengertian nasu (melupakan) di sini adalah tarakuhu ‘an qashd (meninggalkan dengan sengaja ). Demikian Qurthubi dalam tafsirnya. Oleh karena itu, sebagaimana dijelaskan Syaukani, frase ini memberikan pengertian bahwa ketika para pelaku maksiat dari penduduk negeri tersebut benar-benar mengabaikan

 

peringatan orang-orang shalih yang melarang kemungkaran sebagaimana layaknya orang melupakan sesuatu,maka: anjayna al lazdina yanhawna an al su di sini (kami selamatkan orang –orang yang melarang perbuatan jahat). Yang disebut secara tegas disebutkan sebagai orang-orang yang diselamatkan orang-orang yang melarang al su disini, sebagaimana dijelaskan ibnu jarir Al-Thabari, adalah maksiat kepada Allah dan menghalalkan yang haram.

Sebaliknya: Wa akhadna al ladzina zhalamu bi adzab ba is (dan kami timpakan kepada orang-orang zhalim siksaan yang keras). Yang dimaksud dengan al ladzina zhalamu adalah al firqah al ashiyah (kelompok pelaku maksiat). Yakni orang –orang yang melanggar hari sabtu, menghalakan apa yang  diharamkan Allah berupa berburu ikan pada hari sabtu. Demikian Ibnu Jarir al-Thabari dalam tafsirnya.

Terhadap mereka, Allah SWT menimpakan Azab ba’is. Artinya, adzab syadid waji (azab yang pedih lagi menyakitkan). Dari kata al ba’s yang berarti al syiddah ( kuat). Demikian al baghawi dalam tafsirnya. Kemudian dijelaskan: bima kanu yafsuqun ( disebabkan mereka selalu berbuat fasik ). Bahwa azab yang ditimpakan kepada mereka itu semata disebabkan oleh perbuatan fasik. Dijelaskan Al Thabari, fasik adalah keluar dari menaati allah kepada kemaksiatan. Mengenai Azab yang mereka terima, dijelaskan dalam ayat berikutnya: Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, kami

katakan kepadanya :” jadilah kamu kera yang hina” (TQS al-A’raf[7];166).

 

Nasib Kelompok yang Tidak Memberikan Nasihat

Dalam ayat tersebut telah di beritakan dengan jelas bahwa mengenai al firqah al mu’tadiy- yah (kelompok pelaku maksiat) dan al firqah al nahiyah ( kelompok yang melarang kemungkaran). Lalu bagai mana dengan orang-orang yang bertanya: lima ta’izhuna? Yakni kelompok yang tidak terlibat dengan kemaksiatan, namun mereka tidak ikut melakukan amar ma’ruf nahi munkar?

Dalam ayat ini tidak di beritakan secara jelas. Oleh karena itu, ada perbedaan pendapat di kalangan para muffasir mengenai nasib mereka. Menurut Ikrimah mereka termasuk selamat. Sebab, mereka membenci  perbuatan jahat yang dilakukan oleh pelaku maksiat. Ibnu zaid berpendapat sebaliknya, mereka binasa. Menurutnya, ini merupakan ayat yang paling keras ancaman nya dalam hal yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Bagi kita, tidak boleh ambil resiko. Jika kita ingin mendapatkan keselamatan dari azab secara pasti, tidak cukup hanya meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran. Namun juga harus memerintahkan yang Ma’ruf dan melarang yang Munkar. Wal-lah a’lam bi al-shawab.

 

Sumber: Ust Rokhmat S.Labib,M.E.I.  dalam MEDIA UMAT edisi 62 6 -19 Sya’ban 1432H.